Serangan ke Iran untuk Kuasai Selat Hormuz, adalah Karena Minyak

Serangan ke Iran untuk Kuasai Selat Hormuz, adalah Karena Minyak

NOVOSTINA.COM– Jangan tertipu narasi bohong mau “mencegah nuklir Iran”. Serangan gabungan AS-Israel pada 28 Februari 2026 ke fasilitas nuklir, militer, dan kepemimpinan Iran—termasuk klaim pembunuhan Ayatollah Khamenei—bukanlah soal keamanan dunia. Ini adalah operasi imperialis yang telanjang dan terang benderang untuk merebut Selat Hormuz, arteri darah energi global yang mirip Selat Malaka: karena 20-30% minyak dunia (sekitar 20 juta barel/hari) dan sebagian besar LNG dari Teluk Persia mengalir lewat sana, bernilai ratusan miliar dolar per tahun. Ada jargon lama “Follow The Oil” yang sering kali membenarkan pola historis di balik banyaknya agresi militer besar-besaran, terutama sejak abad ke-20. Minyak bukan sekadar komoditas—ia adalah nadi kehidupan ekonomi modern, sumber daya strategis yang menggerakkan militer, industri, dan kekuasaan global. Bukan kebetulan bahwa wilayah kaya minyak seperti Timur Tengah menjadi pusat konflik berulang; ini adalah pola sistematis di mana ambisi penguasaan sumber daya energi sering kali menjadi motif utama atau pendorong utama di balik invasi, intervensi, dan perang.

Dan seperti kita ketahui, Iran menguasai selat Hormuz ini secara strategis—dan itulah ancaman terbesar bagi hegemoni AS. Dengan menyerang Iran, AS ingin melemahkan kemampuan Teheran menutup selat (seperti ancaman IRGC pasca-serangan), memaksa Iran mundur, lalu mengamankan alur pasokan agar AS bisa “duduk manis” saat komoditas langka. Harga minyak sudah melonjak tinggi, tanker menghindari selat, dan ancaman penutupan bisa memicu resesi global—tapi AS, sebagai eksportir minyak neto, justru untung besar dari harga tinggi. Ini bukan pencegahan; ini perampokan sistematis atas sumber daya dunia!

Motif Sejati Terungkap: Perebutan Kendali Energi Global

Trump dan Netanyahu tak peduli nuklir—mereka tahu Iran belum punya bom atom. Yang mereka incar adalah Selat Hormuz sebagai chokepoint utama: Qatar, UEA, Kuwait, Irak, Saudi—semua ekspor minyak/LNG mereka bergantung selat ini. Iran sudah ancam tutup selat sebagai balasan, IRGC gelar latihan militer di sana, dan pasca-serangan, kapal-kapal mulai diperingatkan “tidak boleh lewat” selat Hormuz. Mengakibatkan harga minyak Brent naik signifikan, pengiriman terganggu, dan dunia seketika panik. AS ingin memprovokasi ini agar Iran “terpancing” untuk menutup selat, lalu AS punya alasan untuk intervensi militer langsung—menguasai jalur itu seperti mereka kuasai Selat Malaka melalui aliansi dan pangkalan.

Ini pola lama: Invasi Irak 2003 demi minyak, sekarang Iran demi Hormuz. Saat pasokan global langka (karena perang, sanksi, transisi energi), AS tinggal “kipas-kipas” untung dari monopoli harga—sementara China, India, Eropa, dan negara berkembang menderita inflasi gila-gilaan. Hipokrisinya? AS menuduh Iran sebagai “ancaman”, tapi merekalah yang provokasi dengan serangan brutal di bulan Ramadan, dengan target sipil, dan ancam perubahan rezim.

Indonesia: Korban Utama Penjajahan Modern AS

Lihat betapa ironisnya bagi kita di Indonesia. Dengan kekayaan minyak dan mineral melimpah, sudah, dan sedang menjadi sasaran penguasaan oleh korporasi AS:
– ExxonMobil di Blok Cepu: Kontrak diperpanjang hingga 2055 (dari 2035) dengan investasi US$10 miliar—tapi untung utama mengalir ke AS, bukan ke kas kita.
– Freeport-McMoRan di Grasberg, Papua: Lisensi diperpanjang hingga 2061 dengan janji US$20 miliar—namun dampak ekologis jangka panjang dan kemanusiaan bagi rakyat Papua terus berlanjut, sementara keuntungan dominan ke AS.

Bisa dibilang bahwa ini bukanlah investasi; tapi ini jelas penjajahan ekonomi! Serangan ke Iran adalah ekstensi strategi ini: Dengan menguasai Hormuz, maka AS bisa kendalikan harga global, dan memaksa Indonesia (importir minyak neto) semakin bergantung pada kontrak predatory mereka. Harga BBM naik, subsidi APBN jebol ratusan triliun, rupiah ambruk, inflasi meledak—semua demi AS “duduk manis” kipas-kipas untung dari panen kekacauan yang mereka ciptakan.

Pemerintah Prabowo malah tawarkan mediasi sambil perpanjang kontrak Exxon dan Freeport—jelas mengindikasikan sikap lemah yang tampak tunduk pada tekanan AS pasca-kesepakatan perdagangan. Sebagai negara Muslim terbesar dan anggota BRICS bersama Iran, Indonesia harus bangkit: Kecam agresi ini dengan tegas di PBB, renegosiasi kontrak asing yang merugikan, percepat energi terbarukan, dan perkuat aliansi Selatan Global. Jangan biarkan Selat Malaka menjadi target berikutnya!

Ini Bukan Perang Biasa, Tapi ini Jelas Perampokan!

Agresi AS-Israel ke Iran adalah puncak kebrutalan imperialisme energi: Rebut Hormuz untuk monopoli masa depan langka minyak/LNG, sambil pertahankan cengkeramannya di Indonesia via Exxon hingga 2055 dan Freeport hingga 2061. Ini tentu akan memicu resesi dunia, krisis kemanusiaan, dan risiko perang lebih luas—tapi AS sudah untung, rakyat dunia yang merugi.

Dunia harus bangun: Boikot korporasi perampok, meski agak mustahil: sanksi AS di PBB, dukung diplomasi sejati bukan kekerasan. Buat Indonesia: Presiden Prabowo, jangan jadi pion—kecam keras, lindungi kedaulatan kita, dan pimpin perlawanan terhadap hegemoni ini. Jika diam, kita bukan sekadar korban; kita jadi kaki tangan penjajah modern. Bangkit sekarang, atau sejarah akan mencatat kita sebagai generasi yang menyerah pada tirani minyak!

Malika Dwi Ana
1 Maret 2026

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *