Ketenangan Jiwa dalam Menyikapi Rezeki

Ketenangan Jiwa dalam Menyikapi Rezeki

Refleksi atas Hikmah Imam Ali bin Abi Thalib RA

Oleh Agus Abubakar Arsal

Imam Ali bin Abi Thalib AS :

“Janganlah engkau memikul kesusahan hari esok pada hari ini. Cukuplah bagi setiap hari apa yang ada di dalamnya.”

Nasihat ini sederhana, tetapi menyentuh salah satu sumber kegelisahan terbesar manusia: memikirkan sesuatu yang belum terjadi seolah-olah ia sudah terjadi.

Kita bekerja hari ini, tetapi pikiran sudah takut pada kebutuhan bulan depan. Kita memperoleh rezeki hari ini, tetapi hati belum tenang karena membayangkan apa yang mungkin hilang esok hari. Akhirnya, bukan hanya beban hari ini yang kita pikul, tetapi juga beban masa depan yang sebenarnya belum Allah berikan kepada kita.

Padahal Allah telah menegaskan:

“Tidak ada satu pun makhluk bergerak di bumi melainkan Allah yang menjamin rezekinya.”
(QS. Hud: 6)

Keyakinan kepada rezeki bukan berarti seseorang berhenti bekerja. Burung yang diberi rezeki oleh Allah tetap harus keluar dari sarangnya. Rasulullah SAW bersabda bahwa apabila manusia bertawakal dengan sebenar-benarnya tawakal, Allah akan memberi mereka rezeki seperti burung: berangkat pagi dalam keadaan lapar dan pulang sore dalam keadaan kenyang.

Burung itu tidak diam. Ia terbang, mencari, dan berusaha. Tetapi ia juga tidak menjalani hidup dengan ketakutan terhadap persediaan hari esok.

Di sinilah perbedaan antara ikhtiar dan kecemasan.

Ikhtiar adalah kewajiban.
Perencanaan adalah kebijaksanaan.
Tetapi kegelisahan berlebihan dapat merusak keduanya.

Allah bahkan menjanjikan:

“Barangsiapa bertakwa kepada Allah, niscaya Dia akan memberikan jalan keluar baginya dan memberinya rezeki dari arah yang tidak disangka-sangkanya. Dan barangsiapa bertawakal kepada Allah, niscaya Allah akan mencukupkannya.”
(QS. Ath-Thalaq: 2–3)

Ada banyak jalan rezeki yang tidak mampu kita duga. Karena itu, hidup tidak sepenuhnya dapat diselesaikan dengan kalkulasi manusia.

Kita diperintahkan merencanakan masa depan, tetapi tidak diperintahkan untuk hidup di dalam ketakutan terhadap masa depan.

Rasulullah SAW juga mengingatkan betapa besarnya nikmat yang sebenarnya telah kita miliki hari ini:

“Barangsiapa di antara kalian memasuki pagi dalam keadaan aman, sehat badannya, dan memiliki makanan untuk hari itu, maka seakan-akan dunia telah dikumpulkan untuknya.”

Sering kali manusia kehilangan kebahagiaan bukan karena kekurangan nikmat, tetapi karena terlalu sibuk memikirkan nikmat yang belum dimilikinya.

Ia sehat hari ini, tetapi takut sakit esok.
Ia memiliki makanan hari ini, tetapi takut kekurangan bulan depan.
Ia memiliki pekerjaan hari ini, tetapi takut kehilangan pekerjaan suatu saat nanti.

Akhirnya, nikmat yang nyata dikalahkan oleh musibah yang bahkan belum tentu datang.

Allah berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.”
(QS. Al-Baqarah: 286)

Maka janganlah kita menambahkan sendiri beban yang belum Allah letakkan di pundak kita.

Tawakal bukan berarti berkata, “Saya tidak perlu berusaha karena rezeki sudah ditentukan.” Tawakal berarti: saya akan melakukan sebaik-baiknya apa yang dapat saya lakukan hari ini, kemudian menyerahkan apa yang berada di luar kemampuan saya kepada Allah.

Inilah ketenangan yang lahir dari tauhid.

Kita bekerja, tetapi mengetahui bahwa Allah-lah Ar-Razzaq, Sang Pemberi Rezeki. Kita merencanakan, tetapi mengetahui bahwa Allah-lah sebaik-baik pengatur. Kita berusaha, tetapi tidak menjadikan hasil sebagai sesuatu yang sepenuhnya berada dalam kekuasaan kita.

Karena itu, pesan Imam Ali AS dapat diringkas dalam satu sikap hidup:

Kerjakan kewajiban hari ini. Syukuri rezeki hari ini. Persiapkan hari esok seperlunya. Tetapi jangan memikul kesusahan hari esok sebelum ia datang.

Sebab hari ini mempunyai rezekinya sendiri, bebannya sendiri, dan rahmat Allah yang menyertainya.

Dan ketika hari esok benar-benar tiba, insya Allah, rahmat Allah pun telah menunggu di sana.

Bekasi, 180826
AAAA

About The Author

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *